Calung Dimainkan Dengan Cara Berikut, Kenali Sejarah dan Asal Usulnya

Salah satu alat tradisional yang saat ini masih digunakan, bahkan dikembangkan masyarakat adalah calung. Ya, alat musik yang berasal dari Sunda ini, bertangga nada pentatonik yang terbuat dari bambu hitam, sehingga menghasilkan suara yang nyaring.

Dengan berkembangnya zaman, yang awalnya hanya ada calung renteng, saat ini telah hadir calung jinjing yang lebih mudah dimainkan. Sebenarnya, keduanya sama-sama enak didengarkan meski cara memainkannya berbeda.

Jika calung renteng umumnya dimainkan dengan cara duduk bersila oleh anak laki-laki, maka calung jinjing dimainkan dengan cara dijinjing. Jadi tak heran, jika calung jinjing sering dijadikan sebagai kolaborasi dalam kesenian lainnya, sebut saja kesenian longser.

Kebudayaan Calung
Kebudayaan Calung

Kolaborasi antara kesenian calung dengan longser memang menjadi lebih menarik, sebab semua pemain longser dapat membawa calung jinjing. Bahkan tak jarang pula, pada pertunjukan calung, pemain juga membawakan lagu sunda diiringi dengan calung yang berkolaborasi dengan alat musik tradisional lainnya.

Sedangkan untuk bentuknya, calung jinjing memiliki bentuk yang sama dengan calung renteng, yakni terdiri atas 4 hingga 6 bilah bambu. Sedangkan memainkannya, calung dimainkan dengan cara dipukul, dimana tangan kanan memegang alat pukulnya, sedangkan tangan kiri memegang calung.

Selain itu, para memukul calung pun memiliki beberapa teknik khuaua agar menghasilkan nada yang berbeda. Beberapa teknik yang umum digunakan ialah dirancik, dirangkap dan dikemprang.

Sebagai alat musik tradisional, sebenarnya dahulu calung dimainkan secara khusus untuk ritual tertentu yang ada kaitannya dengan kehidupan agraris masyarakat Sunda. Beberapa ritual yang biasa dilakukan seperti Mapag Sri dan Seren Taun, yakni upacara yang diiringi dengan alunan nada dari musik calung.

Seiring berkembangnya zaman, saat ini calung tak lagi sebagai pengiring ritual, tetapi telah menjadi sebuah seni pertunjukan yang bersifat profan. Beberapa acara yang umum diiringi dengan calung misalnya perhelatan budaya, penyambutan tamu, pernikahan adat serta acara lainnya.

Namun sayangnya memang, sekarang ini penggunaan calung telah jarang digunakan. Hal ini tentunya butuh generasi penerus agar calung tak lengkang ditelan zaman.